Sunday, August 31, 2014

Cari di google aja..

Tadi di gereja, saat homili (kotbah), Romo mengambil tema cinta kasih. Sebagai pengantar, Romo menceritakan bagaimana Tuhan sangat mencintai kita sampai rela berkorban sehabis-habisnya untuk kita. Setelah itu Romo pun bertanya ke kami, "Tau nggak apa sih cinta itu? Tau definisi cinta nggak? Jangan sampai salah mengartikan cinta lho.." 

Tiba-tiba dari sampingku ada suara :
Nicho : Ma, masa' Romo nggak tau sih cinta itu apa? Kalau nggak tau kan gampang, tinggal cari di google. Ketik aja 'arti cinta' trus enter. Nanti pasti banyak deh artinya cinta itu apa.
Me     : (sambil nahan ketawa) oh, gitu ya nak..
Nicho : Iya, aku aja kalo ada tugas sekolah disuruh cari sesuatu, aku carinya di google.
Me     : (speechless)

Ya begini ini kalo anak kecil udah melek internet. :)

Sunday, July 6, 2014

Bendungan Selorejo

Liburan sekolah kali ini, me, my hubby n Nicho pergi ke Bendungan Selorejo. Letaknya di daerah Ngantang, Malang. Dari Malang, ke arah Batu, lanjut terus ke arah Ngantang.
Ada apa sih di sana? Hmmm... memang ini bukan termasuk tujuan wisata yang sampai masuk ke Indonesia top ten travel destination. Bahkan tidak termasuk dalam East Java top ten travel destination. So, the question is, what make us want to go there? Jawabannya : sekali-sekali pengen nyobain liburan ke 'yang bukan pantai'.. hehehe..

Okay, ini ceritanya :

Hari pertama :

Jam 09.00 pagi, kami sudah berangkat dari rumah di Sidoarjo menuju Malang. Perjalanan cukup lancar. Meskipun weekend, tapi karena bulan puasa, jalanan cukup lengang. Selepas Malang, pemandangan mulai enak untuk dilihat. Hijau dan segar.. lumayan untuk mata yang sudah lelah mantengin layar laptop setiap harinya.


Jam 12.30, kami tiba di tujuan. Tapi sebelum masuk hotel, cari makan dulu deh.. Dari hasil browsing, kami menuju ke Rest Area Ngantang untuk makan siang. Kalau dari arah Batu, kita akan ketemu jalan yang bercabang dua. Yang kiri ke arah Bendungan Selorejo, dan yang kanan ke arah Rest Area Ngantang.
Di Rest Area ini, ada banyak warung makan berjejer. Nggak usah bingung dan ragu untuk memilih, karena menu yang dihidangkan sama semua. Sambelan ayam, ikan mujaer, gurami, udang, wader, dll. Yang penting, pilih meja di dekat jendela yang menghadap ke bendungan ya.. sambil makan lihat pemandangan, biar makin lahap. Kalau aku sih, nggak usah lihat pemandangan aja lahap, apalagi pake lihat pemandangan.. hadeuh. Coba aja lihat tumpukan lauk yang tinggal kita tunjuk untuk dihidangkan. Slurp..


Setelah kenyang makan, baru kita menuju ke hotel. Hanya ada satu hotel dan penginapan yang ada di Bendungan Selorejo. Hotel Inna Eight. Hotelnya lumayan, bergaya klasik (kalau nggak mau dibilang jadul.. hehehe..). Kami menyewa cottage yang berbatasan langsung dengan danau. Ini tampilannya.


Setelah barang-barang kami taruh di kamar, barulah kita explore sekeliling. Dari hotel ke lokasi wisata Bendungan Selorejo tinggal jalan kaki saja.
Di pintu masuk lokasi wisata, berjajar warung-warung yang menjual segala macam makanan (sebagian besar sambelan seperti di Rest Area, mungkin itu ciri khas makanan di sini) dan oleh-oleh.


Situasi yang sepi, ada enaknya ada nggaknya. Enaknya, nggak sumpek. Nggak enaknya, semua pedagang langsung fokus menawarkan barangnya hanya ke kita aja.. So, dengan berbekal kata-kata 'mboten pak/bu, mangke mawon' (nggak pak/bu, nanti saja), kami menghindari para pedagang itu dan langsung menuju ke arah danau.

Di Selorejo, ada jembatan gantung dari kayu, lengkap dengan papan peringatan 'maksimal 10 orang'. Nggak kebayang kalau di musim liburan, antrian nyebrang n foto di jembatan ini, pasti puaaaanjaaaaannng.. Jadi, mumpung sepi, narsis dulu ya.. Untuk perhatian, namanya juga jembatan gantung, jadinya kalo kita lewatin, ya goyang-goyang.. agak gamang juga sih.


Berhubung hari masih sore, kami putuskan untuk berkeliling bendungan dengan naik perahu. Bagi yang nggak bisa nawar, nggak usah khawatir. Para tukang perahu itu sudah terorganisir. Sudah ada price list untuk tour keliling bendungan. Ada dua jenis perahu. Perahu dayung dan perahu motor. My suggestion is take the row boat. Kita bisa menikmati view dengan lebih santai. Tarif perahu dayung mulai dari yang paling dekat, Rp 25.000,00, sampai yang paling jauh, Rp 100.000,00. Satu perahu bisa diisi sampai maksimal 8 orang.


Ternyata nggak salah kami pilih perahu dayung. Seru lho.. kami ambil trip yang paling jauh. Kurang lebih satu jam. Begitu naik, kami langsung ditawari dayung untuk bantu ndayung.. hehehe.. dayungnya kecil sih, jadi nggak ngefek juga. Emang cuman untuk pura-pura aja..
Kebetulan tukang perahu kami, orangnya lucu dan pandai bercerita. Mulailah dia bercerita tentang bagaimana padatnya tempat wisata ini kalau musim liburan, dan bagaimana sepinya kalau bulan puasa. Bagaimana kondisi tempat wisata ini saat gunung Kelud meletus dan kerusakan yang terjadi. Iya, bener. Ternyata tempat wisata ini termasuk daerah yang terdampak cukup parah akibat letusan gunung Kelud, pertengahan Februari 2014 kemarin. Danau menjadi berwarna seperti susu karena abu vulkanik, perahu-perahu dan atap-atap rumah penduduk banyak yang rusak, berlubang dan pecah terkena material vulkanik yang masih panas. Debu, abu dan material vulkanik juga merusak perkebunan jambu yang terletak di pulau jambu di tengah danau, juga merusak perkebunan durian yang terletak di tepi danau.
Pulau Jambu sampai saat ini masih belum direvitalisasi lagi, dan menjadi pulau yang tidak terawat. Padahal dulu visit ke Pulau Jambu include dalam tour naik perahu keliling danau. Di sana, menurut penuturan si bapak tukang perahu, pengunjung boleh makan jambu sepuasnya. Too bad we can not do it right now..
Tapi masih banyak kok yang bisa dilihat di sepanjang perjalanan keliling bendungan. PLTA, Gunung Kelud, nelayan yang sedang menjala ikan, burung kuntul (kelihatan nggak tuh di fotonya?)..

 


Setelah puas naik perahu, kami kembali ke hotel. Malamnya kami keluar untuk cari makan malam. Sebetulnya nggak begitu susah nyari makan di sekitar hotel. Tapi sayangnya sebagian besar menjual makanan yang sama. Yup bener banget.. sambelan ikan mujaer, gurami, udang, wader, dan kawan-kawannya. Untung ada warung sate yang buka, jadinya malam ini kami makan sate ayam Madura..

Hari Kedua

Setelah nonton debat capres dan piala dunia semalam, hari ini kami bangun kesiangan. Jam 08.00 baru kucek-kucek mata, itupun nggak segera bangun n mandi. Masih santai-santai dulu di tempat tidur.. mumpung liburan booo..
Akhirnya setelah sarapan pagi (yang sudah agak siang), hari ini kegiatannya : Mancing!
Ini lokasi mancingnya, dilihat dari belakang cottage :


Dan ini para pemancing profesionalnya :


Sayangnya nggak dapet ikan, makanya Nicho mukanya agak cemberut tuh.. Lagian kalo dapet mau diapain juga ya? :)

Selesai mancing, kami langsung balik ke cottage. Sebetulnya di lokasi wisata juga ada kolam renang, tapi berhubung sedang bulan puasa dan sepi pengunjung, kolam renangnya pun sepi dan terkesan kurang bersih. Jadinya kami mengurungkan niat kami untuk berenang.

So, it's time to go home. Beli oleh-oleh dulu deh sebelum pulang. Aku beli ini nih :

 
Murah meriah. Rp 10.000,00 dapat 3 bungkus. Kalau beli Rp 30.000,00 dikasih 10 bungkus. Ada kripik singkong, kripik ubi ungu, carang mas (kripik dari talas yang diberi gula merah), dan kripik-kripik lainnya. Dengan selembar uang Rp 50.000,00, sudah bisa dapat oleh-oleh satu plastik besar.. lumayan..

Selesai deh liburan kali ini.. wait for my next trip ya..

Saturday, June 7, 2014

Awesome Beaches of Indonesia (Jember)

Pantai-pantai di Indonesia itu nggak kalah lho sama pantai-pantai kelas dunia. Sayangnya masih kurang dikelola dengan. baik. Aku nggak bilang tidak dikelola lho ya.. hanya kurang dikelola sajaaahh...

Salah satu pantai di Jawa Timur yang sedang naik daun adalah Pantai Papuma di Jember, Jawa Timur. Jember yang terkenal dengan JFC (Jember Fashion Carnival) nya yang kondang membahana, ternyata memiliki pantai pasir putih yang 'ciamik soro' (famous quote dari tacik2 di Surabaya).

Hari pertama : 

Kami (aku, suami n Nicho) berangkat dari Surabaya jam 13.00.. eh, dari Sidoarjo. Rumah kami di Sidoarjo, Surabaya coret. Yang belum tahu Sidoarjo itu ada di mana, bandara Juanda Surabaya itu sebetulnya lokasinya di Sidoarjo.

Berbekal mbak GPS yang cantik, kami dengan pede berangkat meskipun belum tahu jalan ke lokasi. Rencananya kami akan menginap di Hotel Aston Jember semalam, dan besok pagi kami baru berangkat ke Pantai Papuma. Untuk saran, sebaiknya booking hotel dari Travel agent aja. Selisihnya lumayan.

Perjalanan Sidoarjo - Jember kami tempuh selama kurang lebih 4 jam. Kalo mau ke sini, hati-hati di jalan ya. Terutama menjelang pabrik gula n pabrik kertas di Probolinggo. Soalnya di situ banyak truk yang jalannya kaya siput, dan kalau mau mendahului, harus memperhatikan kendaraan dari depan dan marka jalan! Jangan sampai melanggar marka jalan, banyak polisi yang siap menindak. Hehehehe...

Bagi yang senang wisata kuliner, dalam perjanan Sidoarjo-Jember, bisa nyicipin Nasi Punel Bu Lin di Bangil, Pasuruan. Atau kalo siang sudah sampai di Jember, bisa nyobain Bakwan Eddy (tidak halal) di Jalan Gajah Mada.

Sampai di Aston Jember sekitar pukul 17.30, foto-foto dulu dong di depan Icon Carnival - nya Jember yang dipajang di lobi hotel.


Hotelnya cozy. Recommended deh buat yang pengen ke Jember. Ini tampilannya :


Jangan tanya kenapa ada gambar kolam renang di saat malan n pagi ya.. Sebagai putri duyung sejati, kolam renang adalah tempat wajib yang musti dikunjungi saat menginap di hotel. Jadi, setelah naruh barang di kamar, kami langsung menuju ke kolam renang dan berenang. Pagi, habis sarapan juga berenang lagi. Hehehe..

Malamnya, setelah berenang, kami pergi keluar untuk cari makan malam yang murah meriah ala street food. Dari hasil browsing, jadilah kami memilih Pujasera (Pusat Jajanan Selera Rakyat ) PB. Sudirman. Lokasinya ada di Jl. PB. Sudirman. Nggak jauh dari hotel. Hanya sekitar 10 menit berkendara.


Lumayan sih, makanannya halal, murah, meriah, dan banyak macamnya. Mulai dari nasi goreng, mie goreng, bakwan, sambelan, sampai sate kelinci, martabak, dan susu segar. Yang musti dicoba adalah aneka minuman dari susu segar yang lokasinya di kios depan (menghadap ke jalan). Kios ini menjual segala macam minuman dari susu segar. Nicho pesen chocolate milkshake, dan katanya "awesome!"

Hari kedua :

Setelah sarapan pagi di hotel, kami menyempatkan berenang dulu sebelum check out. Jam 10.30 kami check-out dan langsung berangkat menuju ke Pantai Papuma. Search aja di Google. Ketemu deh. Tapi meskipun nggak pake GPS, Petunjuk jalan dari kota Jember ke Pantai Papuma cukup jelas kok. Jadi, jangan khawatir nyasar. Pantai Papuma, searah dengan Pantai Watu Ulo yang sudah lebih dahulu terkenal dengan jajaran batu memanjangnya yang seperti ular.

Perjalanan ke Pantai Papuma ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam. Jalannya sebagian besar bagus dan halus, sampai persimpangan Pantai Watu Ulo dengan Pantai Papuma. Nah, dari persimpangan ini, jalannya agak kurang bagus. Jalannya sempit dan mobil kecil harus berhati-hati menghindari lubang. Ada tikungan-tikungan tajam, menanjak dan menurun. Jalan ini dibuat menembus kawasan perkebunan milik Perhutani. 

Oh ya, masih banyak monyet berkeliaran lho. Sayangnya aku nggak sempat mengambil gambarnya.
Ini tampilan jalannya :


Tapi seperti kata para penyuka pantai, the most beautiful beaches usually hidden from the world.. ya karena jalan ke pantainya susah. Hahaha.. Well, nyampe juga kita di Pantai Papuma. Dan memang bagus lho. Nggak rugi deh ke sini :


Gugusan batu karangnya ada yang mirip Ha Long Bay, Vietnam ya..
 

Main dulu ya... Lihat deh pasir putihnya, ombak, kapal-kapal nelayan... bagus banget ya.

Di pinggir pantai, berjajar warung-warung yang menyediakan aneka ikan bakar. Kebayang deh makan ikan bakar di pinggir pantai. Mak nyos!


Menjelang magrib, kami pulang. Puas, seneng, capek, kenyang. Nggak lupa, di jalan mampir beli oleh-oleh. Oleh-oleh khas Jember yang paling terkenal adalah Tape dan Suwar-suwir. Suwar-suwir itu makanan seperti permen berbahan dasar tape. Harganya murah kok..


Okay, segini aja dari Jember. Wait for my next trip ya..

Thursday, April 17, 2014

Wani Ta?

Suatu hari, begitu aku pulang dari kantor, Nicho langsung ndeketin aku n ngajak ngobrol :

Nicho : Ma, kok tadi di jemputan, temen-temenku pada bilang 'wani ta.. wani ta?'
            sambil ketawa-ketawa.
Me     : Memangnya pada ngomongin apa?
Nicho : Nggak tau juga. Aku cuman dengerin aja. Makanya aku tanya.
            Wani ta kan artinya perempuan ya Ma? Gitu aja kok pada ketawa.
Me     : Hahaha.. bukan, sayang. 'Wani ta?' itu bahasa Jawa. Artinya 'Berani kah?'
            Itu berarti mereka lagi main 'dare' gitu.
Nicho : Oh, kaya truth or dare gitu ya ma?
Me     : Iya nak.. (sambil senyum2)

Repot juga kalo tinggal di Jawa Timur, tapi bahasa yang dimengerti adalah bahasa Indonesia n bahasa Inggris. Mana bahasa Suroboyoan penuh dengan imbuhan yang harus dimengerti kapan pemakaiannya. Seperti "ta" atau "po'o" atau "be'e". Hadeuh...

Tenang nak.. lama2 kamu juga bakalan bisa kok bahasa Suroboyoan.. Be'e lho yo.. hehehe..

Thursday, April 3, 2014

Mudah-mudahan 9 hari

Minggu malam tanggal 30 Maret 2014 kemarin, Nicho panas tinggi. Dia sudah panas dari hari Jumat n sudah aku bawa ke dokter anak di RS Mitra Keluarga Waru, tapi nggak ada kemajuannya. Akhirnya karena khawatir, aku bawa deh ke UGD nya. Setelah cek darah, ternyata hasilnya sama dengan diagnosa dokternya, memang dia terkena radang tenggorokan yang cukup parah. Leukosit n CRP nya tinggi banget, trus panasnya sampe hampir 40 derajat. Solusinya ya musti ngamar.

Singkat cerita, akhirnya ngamarlah dia. Nah, kejadian lucu terjadi besok paginya. Pas dia lagi diukur suhu tubuhnya sama suster jaga, terjadilah percakapan yang bikin aku ngakak habis :

Nicho : Suster, aku kapan boleh pulangnya?
Suster : Ya nggak tahu dik, biar diperiksa dulu ya sama dokternya. Nanti dokternya yang ngasih tahu, kapan boleh pulangnya. Memangnya kamu mau pulang kapan?
Nicho : Oh please, mudah2an 9 hari lagi.. oh please, mudah2an 9 hari lagi..
Suster : Lho, kok malah pengen lama di sini? Memangnya nggak pengen pulang?
Nicho : Nggak, soalnya kalo 9 hari lagi, aku udah tinggal masuk sekolah sehari, habis itu libur lagi 10 hari.. enaaaakkk...

Suster n Aku : *ngakak habis

Hahahaha... ternyata dia udah ngitung, kalo masuk sekolah tinggal 10 hari lagi sebelum liburan paskah. Hadeuh... stres deh.. dikira emaknya nggak pusing kalo kelamaan di rumah sakit.

Wednesday, March 5, 2014

Elmo

Orang Surabaya, terkenal dengan ketidakmampuannya untuk menyebut huruf "U" dan "I". Huruf "U" kalau dilafalkan (dengan semangat arek-arek Surabaya) menjadi "O" dan huruf "I" dilafalkan menjadi "E". Jadi kalau menyebut "kucing" ya jadi "koceng". Atau menyebut "kunci" menjadi "konce". Atau "turun" menjadi "toron". Dan seterusnya..
Nah, suatu ketika (waktu Nicho kelas 1 SD), aku buka-buka buku pelajarannya. Ada latihan soal yang mengharuskan anak-anak untuk mengisi titik-titik yang kosong. Yang bikin aku ngakak abis, di latihan soal ada kalimat seperti ini :

Murid-murid pergi ke sekolah untuk menuntut .....

Dan Nicho mengisi titik-titik itu dengan kata "elmo".

Wakakak.. pas aku tanyain, dengan santainya dia bilang. "Emang bu gurunya bilang begitu kok ma.. untuk menuntut elmo".
Hadeuh, repotnya kalo punya guru yang Surabaya aseli. Ilmu dilafalkan menjadi elmo.. Untung nggak dituntut sama si Elmo dari Sesame Street.
*tepokjidat

Tuesday, February 25, 2014

Harga rambutan

Percakapanku n my hubby :

Hubby : Td di supermarket "x" harga rambutan kok mahal ya? Pdhal udah ditulis diskon 50%. Tp masih lebih mahal drpd harga rambutan yg dijual di pinggir jalan.
Me : Emangnya brp sih harga rambutan?
Hubby : Di mana2 sekarang harganya 4 ribuan. Kan lagi musim..

Nicho : Bapak ini aneh. Kalo di mana2 4 ribu, berarti harusnya di supermarket, di mall, di mana pun juga itu ya harganya 4 ribu. Nggak ada yg lbh mahal.

Me n my hubby : *ngakak